Laman

Sabtu, 27 Oktober 2012

Tugas Kuliah Teologi Sistematika



RINGKASAN BUKU
“KEBENARAN-KEBENARAN DASAR IMAN KRISTEN”
OLEH R.C. SPROUL
http://lilinkecil.com/images/kebenaran2%20dasar%20iman%20kristen.JPG

PENDAHULUAN

1. ALLAH YANG TIDAK DAPAT DIMENGERTI SECARA TUNTAS
            Karl Bath seorang Teolog berkebangsaan Swiss mengatakan ada dua (2) pemikiran mendasar dalam mempelajari teologi yaitu :
a.       Di dalam kebenaran kekristenan yang paling sederhana terdapat kedalaman yang dapat mempengaruhi pemikiran orang-orang yang paling pandai di dalam sejarah manusia.
b.      Usaha mempelajari keluarbiasaan pemikiran teologi, kita tidak akan pernah dapat memahami kedalaman dan kekayaan karakter Allah.

Jhon Calvin menggunakan analogi yaitu Allah berbicara kepada kita dengan menggunakan“bahasa bayi”. Tidak ada seorangpun yang mempunyai kemampuan untuk mengerti Allah secara tuntas, sebab kita adalah makhluk yang terbatas sedangkan Allah adalah keberadaan yang tidak terbatas (Ayub 38 : 1-38, Mazmur 139 : 1-18).
            Pengetahuan manusia yang terbatas bukan berarti tidak dapat mengetahui tentang Allah. Pengetahuan yang diberikan Allah melalui wahyuNya nyata dan berguna bagi manusia. Kita dapat mengetahui tentang Allah sepanjang Allah menyatakan diriNya kepada kita.
Martin Luther mengarahkan dua(2) aspek tentang Allah yaitu “yang tersembunyi” dan “yang dinyatakan”. (Ulangan 29 : 29 “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini)

2. ALLAH TRITUNGGAL
            Doktrin Allah Tritunggal atau Trinitas bukan menjelaskan relasi dari 3(tiga) Allah, tetapi satu Allah yang memiliki 3 (tiga) Pribadi. Kata Trinitas dipergunakan sebagai usaha untuk menjelaskan kepenuhan dari Allah, baik dalam hal keesaanNya maupun dalam hal keragamanNya (Ulangan 6 : 4). Alkitab menegaskan keilahian 3 (tiga) Pribadi dari Allah yaitu : Bapa, Anak dan Roh Kudus (Matius 3 : 16-17 , Matius 28 : 19).
            Modalisme adalah ajaran yang menyangkal perbedaan pribadi-pribadi yang ada didalam keesaan Allah, dan menyatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus hanyalah merupakan tiga cara Allah di dalam mengekspresikan diriNya. Sedangkan Triteisme yaitu ada tiga keberadaan yang menjadi Allah.
            Setiap Pribadi di dalam Trinitas memiliki peran yang berbeda. Allah Bapa memprakarsai penciptaan dan penebusan, Anak menebus ciptaan yaitu manusia berdosa dan Roh Kudus melahirbarukan dan menguduskan dalam rangka mengaplikasikan penebusan bagi orang-orang percaya.
            Doktrin Tritunggal menuntut kita untuk setia pada wahyu ilahi yang menyatakan bahwa dalam satu pengertian Allah adalah esa dan dalam pengertian lain Allah adalah tiga.


3. KEMANDIRIAN ALLAH
            Pada waktu Alkitab menyatakan bahwa Allah adalah Pencipta alam semesta, hal itu berarti pula bahwa Allah sendiri tidak diciptakan (Yohanes 1 : 1-5) Adalah tidak mungkin bagi sesuatu untuk menciptakan dirinya sendiri. Dia adalah kekal, itu berarti Dia selalu ada, dulu dan sekarang (Kolose 1 : 15-20, Wahyu 1 : 8). Allah tidak membutuhkan pertolongan dari sumber lain diluar diriNya. Hal ini yang dimengerti sebagai keberadaan yang mandiri. Allah kekal, sumber dan mata air dari segala keberadaan serta memiliki kuasa keberadaan. Paulus menyatakan kebergantungan manusia pada kuasa keberadaan Allah (Kisah Para Rasul 17 : 28).


4. KEMAHAKUASAAN ALLAH
            Di dalam  teologi istilah mahakuasa tidak berarti bahwa Allah dapat melakukan apa saja, misalnya tidak dapat berbohong (Ibrani 6 : 18), tidak dapat mati dan tidak dapat diciptakan.
            Kemahakuasaan Allah berarti Allah berkuasa dan memiliki otoritas atas semua ciptaanNya. Apa yang tidak mungkin bagi manusia selalu mungkin bagi Allah. Allah dapat melakukan apa saja yang dikehendakiNya ( Lukas 1 : 37). Tidak ada satupun di alam semesta yang dapat menggagalkan rencana-rencana Allah (Ayub 42 : 2)


5. KEMAHAHADIRAN ALLAH
            Manusia tidak mungkin berada pada dua tempat dalam waktu yang bersamaan. Hal ini disebabkan manusia merupakan roh yang terbatas. Hanya Roh yang tidak terbatas yang mampu untuk Mahahadir. Keimanenan Allah adalah Allah hadir secara penuh di segala tempat dan segala waktu (Yeremia 23 : 23-24). Daud selalu meninggikan kemuliaan akan kemahahadiran Allah secara puitis (Mazmur 139 : 7-10). Kemahahadiran Allah merupakan penghiburan bagi orang-orang percaya.


6. KEMAHATAHUAN ALLAH
            Kata Mahatahu berarti “memiliki semua pengetahuan”. Allah sebagai keberadaan yang tidak terbatas mampu untuk menyadari segala sesuatu, mengerti segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu (Roma 11 : 33-36). Kemahatahuan Allah berdasarkan Allah yang tidak terbatas dan Allah yang mahakuasa. Kemahatahuan Allah juga memiliki peranan sebagai Hakim yang maha adil, sebab Allah harus mengetahui semua fakta tanpa ada yang tersembunyi (Ibrani 4 : 13 “Dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang tersembunyi dihadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab” ).


7. KEKUDUSAN ALLAH
            Kata Kudus dalam Alkitab memiliki 2 (dua) pengertian yaitu :
1. Keterpisahan atau keberbedaan.
Alkitab berbicara tentang obyek yang kudus, orang yang kudus dan waktu yang kudus hal ini disebabkan oleh jamahan Allah atas semua itu. Kedekatan Allah yang menyebabkan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa dan yang umum menjadi khusus.
             Contoh :
- Menguduskan Hari Sabat (Kejadian 2 : 2-3)
- Musa dipanggil Allah di Gunung Horeb (Keluaran 3 : 1-6)
- Dll.
2. Kemurnian dan kebenaran tindakan Allah. Allah tidak pernah melakukan kesalahan karena naturNya adalah kudus (Yesaya 6 : 1-13).  Kebenaran internal Allah (natur kudusNya) dan kebenaran eksternal Allah (tindakanNya).
Kita dipanggil untuk mencerminkan dan merefleksikan kebenaran tindakan Allah dan harus meneladani kebaikanNya.


8. KEBAIKAN ALLAH
            Yakobus mengatakan “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang, padaNya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran (Yakobus 1 : 17). Pada sebuah bayangan ada bagian gelapnya. Dalam istilah rohani kegelapan dihubungkan dengan kejahatan. Kebaikan sangat erat hubungannya dengan Allah. Plato (seorang filsuf) mengatakan kebaikan tertinggi adalah Allah sendiri. Yakobus mengajarkan bahwa setiap yang baik dan yang sempurna merupakan pemberian dari Allah dan Allah adalah Sumber dari semua kebaikan. (Roma 8 : 28).
 

9. KEADILAN ALLAH
            Aristoteles mendefinisikan keadilan sebagai “memberikan kepada seseorang apa yang menjadi miliknya”. Yang dimaksud dengan “menjadi miliknya atau haknya” dapat ditentukan berdasarkan pada tanggung jawab etika atau berdasarkan perjanjian sebelumnya.
            Kemurahan dan keadilan merupakan sesuatu yang berbeda walaupun keduanya dapat dikaitkan. Kemurahan terjadi pada saat seseorang yang melakukan kesalahan diberikan hukuman yang lebih ringan dari seharusnya atau upah yang lebih besar dari seharusnya diterima. Anugerah Allah pada dasarnya adalah semacam kemurahan. Kemurahan Allah adalah hal yang didasarkan atas kebebasan kehendakNya. Seperti yang dikatakanNya kepada Musa :”Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati” (Roma 9 : 15).
Paulus menerima anugerah dari Allah sedangkan Yudas Iskariot menerima keadilan. Ketidakadilan diluar kategori keadilan dan merupakan pelanggaran bagi keadilan sedangkan kemurahan juga diluar kategori keadilan namun tidak melanggar keadilan. GBU.

By. A.SIMARMATA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar